Fokus yang tak bisa fokus

      Gue sadar kalo selama 2 bulan terakhir, gapernah gue sentuh blog gue ini. Jadi hal pertama yang ingin gue sampein di blog ini, adalah permintaan maaf buat kalian para readers gue (kalo ada) karena udah lama tulisan blog ini stuck di angka 25 Februari 2016. Dan sekarang, gue akan coba nulis tentang apa sih kesibukan gue yang bikin blog gue terbengkalai belakangan ini.

Kalo boleh jujur, saat gue lagi nulis tulisan ini, gue lagi drop banget. Ga secara fisik, tapi secara psikis. Gue merasa kayak lagi diserang si 'masalah' yang make jurus kagebunshin no jutsu. Jadi banyak. Gue ngerasa diserang dari segala arah, segala aspek. Rada lebay ga sih? hahah
This picture reflects me perfectly

Anyway guys! Gue gamau berlama-lama cengeng di tulisan gue kali ini. So, let the cheerful side take over!
Jadi, balik lagi ke topik utama gue di tulisan ini, kesibukan apa aja sih yang lagi gue tekunin sampe gue ga sempet sentuh blog ini?

1. From Blogging to Vlogging
Yap! Gue memutuskan untuk kembali aktif di Youtube, setelah dulu gue sempet aktif di Youtube buat upload-upload cover bobrok. Gue yang berusaha ngikutin trend, akhirnya berani buat nyoba Vlogging dengan kamera yang seadanya. Sampai saat tulisan ini gue buat, gue udah upload sampai 9 episode vlog di youtube gue.
Tuh liat aja sendiri.

Jadi, sebenernya kalian gaperlu khawatir kalo gue meninggalkan blog ini, karena gue juga membagikan cerita gue dalam bentuk video, di youtube. Silahkan ditonton!
Tapi, bukan berarti gue ninggalin blog gue. Gue bakal tetep update kok, meskipun inkonsisten. Hehehe.

2. Recording Project
Meskipun project yang dibuat sama Vito (gitaris FWD) ga terlalu nyibukkin gue, tapi tetep aja gue butuh fokus ke sini juga. Ini bakal jadi kali pertama gue nyentuh studio rekaman dan nyanyi di depan condensor microphone! Footagenya juga ada di vlog gue loh yang judulnya "Doing ALL My Hobbies in one day"
Dan rencanya, project ini akan direalisasikan pada awal Juni, seselesainya FWD ngisi acara di kampus gue pada akhir Mei.
Wish Me Luck!

3. Kembali kepada Novel
Yak. Hobi yang udah rada lama gue tinggalin, baca novel. Gue dulu rajin banget baca novel, puncaknya pas SMP. Gatau kenapa sejak SMA gue mulai meninggalkan kebiasaan baca novel gue. Entah karena gue sibuk atau apa, gue juga gatau. Namun belakangan ini gue mulai balik baca novel lagi. Bahkan, pas kemarin ada event Big Bad Wolf di BSD, gue borong 7 novel guys! Lumayan buat stock gabut.
Dan gacuma baca, gue berpikir untuk menulis novel gue sendiri. Menurut kalian gimana?
PS: gue sempet nulis novel beberapa tahun lalu. Tapi begitu udah setengah jalan, filenya ilang gara-gara komputer gue dipretelin. Jadi rada males buat start over.

Jujur, gue bukan ga kewalahan dengan apa yang lagi gue kerjakan, tapi gue antusias juga. Jadi, meskipun kadang gue stress sendiri gara-gara kewalahan, meskipun gue mulai jarang mikirin kuliah gue, gue yakin ini bisa jadi batu loncatan buat gue jadi lebih baik kedepannya. Yang penting gue harus tetep fokus.

That's it! Sekian dulu tulisan gue kali ini yang mungkin menurut kalian hanya, hmm, nambahin feed yang udah lama ga diupdate? hahahah
See you guys on the next post!

Gaya Pegas Sang Ketapel

Kata orang, kehidupan itu kayak roda yang berputar. Kadang kita berada diatas, ada juga kalanya kita menyentuh titik terbawah dalam kehidupan.
Lalu, apa semua orang merasakan yang namanya 'roda kehidupan'?
Kalo iya, kenapa banyak orang yang mengeluh kalau hidup itu gak adil? Kenapa kita masih banyak menemukan orang yang udah susah payah banting tulang, tapi hidupnya masih stuck disitu-situ aja tuh? Susah terus.
Sementara di sisi lain, banyak anak konglomerat yang hidupnya foya-foya, dari kecil aja gaya hidupnya gak beda dibanding seorang pangeran. Udah gede tinggal lanjutin usaha orangtuanya, dan tinggal merintah anak buahnya. Udah tua tinggal nyuruh anaknya lanjutin lagi, dan dia tinggal nikmatin masa tua di kursi goyang. Banyak kan yang kayak gitu? 

"Tapi kan, bangun usaha gitu juga dari nol. Dan pasti ada masalah kan selagi dia memimpin?"
Memang. Tapi kan dia cuma MELANJUTKAN apa yang dimulai oleh orangtuanya. Basically, orangtuanya-lah yang berjuang, bukan dia. 
Lagipula, kalau bisa dibandingkan, apakah usaha si anak konglomerat sama besar, atau bahkan lebih besar dari orang kebanyakan yang sudah berusaha, tapi ga pernah berhasil?

Belom tentu.

Lalu, kalo kayak gitu, dimana dong letak 'roda kehidupan' nya?

Ilustrasi di atas lagi-lagi lewat di kepala mahasiswa bobrok yang menulis post ini. Gua memang masih terlalu muda untuk diajak berpikir kritis, apalagi tentang pahit-manisnya kehidupan. Gua yang bahkan belum menyentuh kepala dua ini, belom ngerti apa-apa kok. Tapi, gua udah cukup melihat banyak contoh yang bisa bikin gua menarik kesimpulan.

Menurut gua, hidup bukan soal adil atau gak adil doang. Tapi lebih tentang bagaimana kita bisa bertahan bahkan ketika sedang berada di titik terbawah itu. Bagaimana kita bisa overcome the obstacles that approach us cotinuously. 


Jujur, gua tadinya sempet stuck buat lanjutin tulisan ini, yang sebenernya udah seminggu mengeram di draft. Namun, ketika gua pulang kuliah tadi dan ngescroll instagram gua, gua menemukan sebuah inspirasi dan akhirnya gua tau apa yang harus gua tulis.

And believe it or not, gua menemukannya di 9gag, yang notabene adalah akun lucu-lucuan.

So, I dedicated this 'what-so-called' motivational post for those who are currently feeling down.

"When a child learns to walk and falls down 50 times, he never thinks to himself: "maybe this isn't for me?""

Kita udah tau bagaimana jadinya anak itu jika ia menyerah untuk belajar jalan. Seumur hidupnya ia hanya akan duduk di kursi roda. Menyedihkan.
Yang bisa gua tangkep adalah, the one who hold us back is us. Anak kecil, dengan kepolosannya, dengan pikirannya yang isinya cuma "gua pengen bisa jalan" ga peduli dia mau jatuh berapa kali, bahkan ga sempat mengingat kalau dia pernah susah payah belajar jalan. Sampai tanpa sadar, ternyata dia udah bisa jalan sendiri tanpa ditopang ibunya dari belakang.

Meanwhile, kita yang udah gede, yang udah mandiri, yang udah bisa mikir malah stuck. Terkadang kita stuck justru karena kita udah bisa mikir. Mikir negatif lebih tepatnya.
"Kalo gua deketin A, dia illfeel gak ya?"
"Kalo gua masuk organisasi B, gua kompeten gak sih?"
"Si C kira-kira mau gak ya main sama orang kayak gue?"
"Gue pengen deh kayak si D. yang udah multi-talented, eksis pula."
"Gue emang gak ada apa-apanya yah dibanding si E."
Itu masih sebagian kecil contoh aja. Dan gua yakin, kalian pasti pernah mikir kayak gitu. Gua pun juga pernah. Sering malah.

Gua cuma mengingatkan aja, kalau semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Semua orang pernah ngerasa down. Semua orang punya masa suram dalam hidupnya. Bedanya, ada orang yang belajar dari masa suramnya itu, dan ada juga yang stuck disana, tanpa ada niat keluar sedikit pun. Karena menurutnya, seberapa keras pun dia coba, dia akan tetap disana. 

Gua ga bertujuan untuk bikin kalian yang baca ini, nangis atau terharu. Sama sekali enggak. Tapi yang gua tujukan adalah, masalah lu, masalah gue, masalah kita, seberat apapun, itu cuma sementara. TEMPORARY. If you think your problems are long-term, or if you think there's no exit. Then you're COMPLETELY WRONG.

If you think that you're not needed anymore, or if you feel that you're all alone. There's always someone who will free their time just to cheer you up. Your little smile worth thousands happiness to them. You're not alone and there's always someone who will love you just the way you are.

If you think you're not good at anything. Believe me that there's always someone who is wanting to become like you. You may not realize it, but I guarantee there are a lot of GOOD THINGS within you.

If you think that life's too much to handle, you get it wrong. You will become stronger and stronger. And someday you'll look back, and all you need is to give thanks to those temptations which HELP you get stronger.

Your feelings are real. You may fake your face expressions, but your feelings are real. And you know it.


Kenapa gua beri judul post ini "Gaya Pegas Sang Ketapel?" 

Karena percayalah, kalau masalah-masalah yang datang itu nantinya yang akan buat kita lebih maju kedepan. 
Batu yang semakin kencang ditarik kebelakang, akan semakin jauh lesatannya kedepan.
Sama seperti kita. Yakin aja kalau makin banyak masalah yang kita hadapi, akan makin kuat juga kita kedepannya. Yang jadi masalah adalah keyakinan itu sendiri.
"Memangnya siapa yang megang ketapelnya?"
Kalian punya agama? Maka kalian akan tau siapa yang megang.
Sekarang pilih aja.
Kita mau maju, mau berkembang, atau mau disitu aja?
Apakah kita siap dilontarkan oleh gaya pegas sang ketapel?
- Fernando Vigilio

Living my life like a Zombie

     Suasana halaman kampus gua yang adem dan rindang bikin gua betah duduk berlama-lama di kursi taman ini. Sambil liatin pepohonan tinggi dengan banyak orang berlalu-lalang dibawahnya somehow bikin gua lebih rileks aja. Sambil ngeliatin sekitar, gua sambil merenung. Gua ternyata hidup di dalam suatu society yang terdiri dari banyak orang dengan latar belakang berbeda-beda, baik dari segi fisik, perilaku, juga kultur yang berbeda-beda. Ada yang tinggi, ada juga yang pendek. Serampangan dan lugu pun banyak bisa gua temui disini. Ada yang datang dari daerah-daerah kecil penjuru nusantara, ada juga yang ga jauh-jauh banget dari Jakarta. Ada yang datang dari keluarga sederhana dan mengandalkan beasiswa disini, dan ada juga yang punya kebiasaan hedon diliat dari lifestylenya. Menurut gua semua manusia yang ada disini adalah one of a kind, ga ada duanya.

Tenang aja. Gua ga akan bikin tulisan yang panjang-panjang kayak sebelumnya. Tapi tulisan gua kebawah mungkin akan sedikit ‘belok’ dari apa yang kalian expect.

Have you ever thought of living your life like a zombie? Well I have.

Gua sempet berpikir, gimana sih rasanya hidup kayak zombie. Yang gua tau, All those diversity in our life (which I mentioned earlier on the opening paragraph) will be disappeared. Semua orang gak akan memandang latar belakang satu sama lain. Semua orang akan bertingkah dan berperilaku sama. Berjuta budaya yang terdapat di dunia pun akan mengerucut dengan sendirinya menjadi satu budaya, yaitu budaya zombie.
Semua orang ga akan lagi punya tujuan hidup. Uang pun bukanlah sesuatu hal yang akan di-Tuhan kan. Jalan sempoyongan kesana-kemari tanpa tujuan. Makanan mereka pun sama jenisnya. Otak manusia segar. Kita gak akan mengenal lagi yang namanya orang Belanda makan keju, atau orang papua makan sagu. Gak bakal ada.
Berkomunikasi pun akan sulit. Gak ada bahasa baku yang bisa digunain. Toh ngomong a i u e o aja mesti susah payah narik urat. (Itu pun kalau urat mereka masih berfungsi). Gak ada lagi struktur sosial, diferensiasi maupun stratifikasi sosial. Semua sama. Semua Rata. Gak ada lagi klasifikasi kaya miskin, atau bahkan kulit hitam dan kulit putih.

Semuanya sama.

Kesan yang gua tampilin diatas memang bisa dibilang buruk. TAPI, kehidupan statis yang akan dialami para zombie gak selamanya buruk. To be honest, gua punya sifat yang bisa dibilang mirip zombie. Gua ini pasrahan orangnya. Maksud gue, gue hidup tuh kayak ga punya tujuan pasti, bisa dibilang asal mengalir aja kayak air, ngeliat kemana hidup akan membawa gua. Sama kayak zombie yang mereka lagi ngapain pun mereka sendiri gak tau.
Tulisan gua emang terkesan gajelas dan ngelantur. Tapi gua memang sering kedapetan random thought yang kayak gini. Imajinasi gua emang kayak anak kecil, tapi gua malah seneng dengan tingkatan imajinasi gua yang naujubile. Karena gua tau akan banyak ide kreatif yang bakal keluar dari otak gua.

Kembali ke zombie.

Gua pernah nemu quotes sindiran bunyinya begini:

“Ada satu hal dimana zombie lebih baik daripada manusia. Zombie gak makan temennya sendiri.”

Emang nyelekit di hati, tapi menurut gua quotes itu gak salah. Menurut gua kehidupan zombie itu less drama.
Jujur gua pernah kepingin hidup kayak zombie. Dan sekarang gua kepikiran tentang ini lagi. Because I don’t have to deal with so many things therefore I could reduce my stress level. Rite? 
Masalah hidup yang akan nongol palingan cuma sekedar “Gimana dapet otak segar hari ini?”
Membosankan memang hidup di lingkungan yang gak dinamis dengan rutinitas yang sama setiap hari. Lu ngebiarin hidup lu ngalir kayak air, dan tanpa tujuan.

Pada akhir kehidupan zombie pun, hampir semua orang akan ‘pergi’ dengan plot yang sama.
Dimana lu Cuma harus nunggu kulit lu mengelupas dengan sendirinya hingga Cuma nyisain tulang belulang sampai lu terkapar seendiri di tengah jalan, tanpa ada yang nangisin kepergian lu.


-          Fernando Vigilio

How I Celebrate my New Year

24 Desember 2015

Gua nyampe di bandara sekitar jam 5 sore waktu Jogja. Dan sialnya, udah gua nyampenya kecepetan, ternyata pesawat gua delay juga sampe jam 20:30. Jadilah gua melewatkan misa malam natal dan malah merenung mondar-mandir layaknya seorang anak ilang di bandara, sambil nyemilin snack yang gua beli di minimarket bandara dan earphone terpasang di kuping gua.

Kesel sih, padahal flightnya cuma dari Jogja ke Jakarta, tapi bisa delay satu setengah jam. Disela-sela waktu gabut gua di bandara, gua merenungkan banyak hal, termasuk tentang bagaimana gua akan merayakan tahun baru. Gua teringat kalo band gua 4WD dipanggil untuk mengisi acara tahun baruan di gereja. Nah masalahnya ini udah H-7 dan kita belum latihan sama sekali untuk bawain 2 lagu yang akan kita mainkan. Bahkan kita gatau bakal latian kapan soalnya jadwal liburan kita emang beda-beda. Akhirnya setelah hiruk-pikuk dan ketegangan yang terjadi di rapat online anak-anak 4WD di Line, diputuskan kita bakal latian tanggal 30. Pas H-1 perform.

Berasa pro.

26 Desember 2015

Natal gua lewatin dengan biasa-biasa aja. Seharian gua gabut kemudian sorenya gua pergi ke gereja.
Udah Gitu aja.
Sedangkan tanggal 26 ini gua reuni kecil-kecilan sama temen komplek gua yang udah pada melancong ke seluruh penjuru Jawa dan Singapura. Selain melepas kangen, kita juga buat beberapa challenge yang akhirnya membuat gua menyesal. Pasalnya, tanggal 26 ini adalah malam terakhir gua tidur dirumah sebelum besoknya harus pergi retret sama anak-anak Antiokhia. Nah malem ini gua sama anak-anak so7 (Jerry, Albert, Andre, Frans, Rayo, dan Nano) cabut ke basecamp kita kalo nongkrong, yaitu di ropang paramount.

Antiokhia itu apa? so7 itu apa? Gausah dipikirin ya dek. Emang gua ini tergabung di banyak kelompok. HAHAHAHAH

Singkat cerita, Albert si pencetus challenge pun bikin dua challenge yang akan kita mainin malem ini. Yang pertama kita akan main kartu, dan 2 peserta dengan kekalahan terbanyak akan makan indomie (1 dibagi 2) dengan jumlah cabe yang sama dengan total kekalahan. Pada akhirnya, si pencetus Albert kalah sebanyak 5 kali, dan Frans 3 kali. Jadilah mereka makan indomie dengan 8 cabe.

Untung gua ga kalah. Gua gamau menghabiskan waktu retret gua bolak-balik wc gara-gara mencret.

Di geng kita, emang udah kutukannya kalo ada seseorang yang bikin challenge, pasti orang itu juga yang kalah. Dan banyak contoh terjadi pada Albert. Kasian emang. Cuma dia ga kapok sih, ya biarin aja~
Challenge kedua di malam itu, kita pesen roti bakar. Namun bukan sembarang roti bakar. Kita minta 'special topping' gitu sama masnya.

"MAS! Pesen roti bakar tapi dalemnya pake sambel sama kecap ya. Toppingnya kasih keju aja" - Jerry Pascalis, 18 tahun menuju 19.
Oh, toppingnya gitu doang ternyata, ga berat-berat amat lah pikir gua. Namun semua pikiran santai itu berubah saat Albert bangun dari kursinya, nyamperin meja lain yang kosong, terus ngeborong garem, lada, sama sambel dari meja lain. Dan gua sadar kalo gua telah menyesal kalo gua pikir bisa ngelewatin challenge ini dengan mudah.
Roti pun tiba, dan dengan semangat Albert 'menghias' roti yang udah buruk itu menjadi lebih buruk. Sekarang gua udah gabisa liat bagaimana rupa roti itu lagi. Yang bisa gua liat adalah lautan garem dan lada yang ada di atas roti bertopping keju itu. Ngeliat aja udah mau muntah, apalagi gua makan.
And the game began.
Kita main kartu lagi, kali ini kita main 'Kartu Setan' dimana inti dari permainan ini adalah mencocokkan kartu. Susah sih jelasinnya.
Pokoknya yang kalah harus makan sepotong dari roti gak berbentuk tadi. Roti tersebut dipotong menjadi 9 bagian, yang berarti kita akan main sebanyak 9 ronde. Tadinya. Cuma akhirnya kita cuma main 6 ronde. Dimana yang kalah di tiga ronde terakhir harus makan 2 potong. Gua selamat selama 5 ronde pertama. Tapi gak di ronde 6. Dan yang lebih sialnya, potongan terakhir yang tersisa di roti tersebut adalah potongan roti di bagian tengah, dengan isi toppingnya paling 'mewah' dibanding yang dipinggir-pinggir.

Gausah nanya. Gua langsung muntah di gigitan pertama.
Singkat cerita, gua pulang dengan asin-pedas tak terbantahkan di lidah gua. Maknyus. Lalu gua ga langsung tidur, tapi packing buat persiapan retret.

29 Desember 2015

We had so much fun. Mini Weekend Antiokhia yang berlangsung selama 3 hari 2 malam pun selesai, dengan gua keluar dengan jabatan dan tanggung jawab yang baru. Gua terpilih sebagai Palu buat periode 2016 bersama dengan partner gua Cisca sebagai Bulunya. Palu Bulu tuh apa sih?
Temukan jawabannya di Antiokhia ya!
1-3 Juli di Puspanita, Bogor. Pendaftaran bisa langsung chat gua aja ;)

LAH MALAH PROMOSI DAH

Singkat cerita gua pulang kerumah untuk beristirahat dan menghabiskan sisa hari selasa itu dengan ngebo. Udah.
Ini Palu-Bulu lagi mimpin rapat. Bukan. Bukan yang dibawah kok.

30 Desember 2015

Hari ini merupakan hari kelam gua menjelang tahun baru. Diatas gua udah bilang kan kalo tanggal 30 ini 4WD bakal latihan buat yang pertama dan terakhir sebelum performance besok? Nah latiannya sih emang jadi. Namun ada suatu hal yang diluar dugaan. Bassist gua ternyata baru aja melakukan tur naik motor ke anyer, dari tanggal 29 dan baru balik tanggal 30 malem. Dan dia mengeluh badannya sakit semua sehingga harus absen di event yang tinggal SATU HARI LAGI.

Fucked up kan? Tapi tenang gua pro. HA!

Kita latihan ber-empat dengan dibantuin oleh temennya Visma (Drummer gua) untuk ngisi bassist sementara. Tapi tetep aja, keputusan akhir kita akan melakukan performance bsesok hanya bertiga. Rotasi pun kita lakukan di band.
Aslinya : Vico-Vocal/Rhythm Guitarist. Vito-Lead Guitarist, Dhani-Bassist, Visma-Drummer.
Menjadi: Vico-Guitar, Vito-Bass, Visma-Drum
Untung Vito bisa mendalami role sementaranya dengan baik. Kalo engga mah ya wassalam untuk reputasi 4WD.

The Show must go on kan?

31 Desember 2015

Today is the day! Mari kita tutup tahun 2015 dengan sukacita! #yeameh
Sekitar jam 12 siang gua sama Vito sampe gereja buat melakukan check sound. Visma? dia dateng belakangan gara-gara ketiduran.
Baru juga semangat nulis, jadi males lagi nginget kejadian itu. Bruh.
Dengan persiapan yang sangat kurang, kita melewati cek sound dengan sangat amburadul. Jadilah gua pulang untuk tidur istirahat bentar, kemudian gua bersiap-siap sekitar jam 6an. Gua sengaja berangkat lebih awal karena gua tau ini malam tahun baru, dan akan macet. Tapi ternyata gua salah.
Gua perform jam 10, sedangkan gua udah sampe di BSD jam 6:30. Jadi selama sekitar 2 setengah jam gua mondar-mandir bareng 'cememew' gua, tanpa arah dan tujuan. Ga sepenuhnya tanpa tujuan sih. Gua berangkat ke rumah temen gua pada akhirnya untuk bantu mempersiapkan peralatan BBQ. Pasalnya, gua memang udah berencana untuk menghabiskan malam tahun baru bareng temen-temen gua ini. Jam 9 gua balik ke gereja untuk persiapan perform. Gua sama Vito dateng tepat waktu. Vismanya ilang.

Seperti biasa.

Tanpa gua duga, rundown acara berjalan lebih cepet, dan gua harus naik ke atas panggung jam 9.30, sementara Visma belom nongol batang hidungnya. Kan taik ya.
Kepanikan gua berakhir 10 menit setelah gua dipanggil ke atas panggung. Visma pun nongol dengan santainya pake jaket varsity dan jeans 3/4. Terlihat seperti anak layangan sangat siap untuk menjajal panggung.
Di panggung, dengan persiapan YANG SANGAT AMAT SEDERHANA, kami membawakan dua buah lagu. Yang pertama adalah Livin on a Prayer yang dipopulerkan oleh Bon Jovi tahun 1994. Dan yang kedua kita membawakan hits dari Sheila on 7 berjudul Melompat Lebih Tinggi. Dan atas kuasa Tuhan, somehow kita bisa memberikan performance yang rapi dan menurut gua pribadi sih bagus (diliat dari latihan yang cuma sekali. Itu pun berantakan latiannya). Nih kalo mau liat penampakan kita-kita lagi manggung.
Kalo lu mau nanya Vito mikir apa sampe harus nengok atas gitu, tanya langsung ke orangnya. Gua gatau apa-apa.

Dan kita pun disambut hangat oleh applause dari para penonton yang gua taksir sekitar 150 orang. Lumayan rame emang. Cuma gatau kenapa, semakin rame audiencenya, semakin semangat juga gua jadinya. Mungkin gua seneng jadi pusat perhatian. Ciat!
Selesai bawain lagu Sheila on 7, kita pun turun panggung. Vito sam Visma turun duluan, sementara gua masih jingkrak-jingkrak dipanggung gajelas, cabut-cabutin kabel efek gitar gua, padahal MC lagi bawain acara. 
Bodo amat. 
Gua repot sendiri.
Dibawah panggung pun gua lega karena performance kita ga jelek-jelek amat lah. Kemudian kita bertiga foto gitu, biar kayak anak hitz. Gapake lama setelah itu, gua pun pamit sama Visma dan Vito, dan juga ke panitia yang udah manggil band gua, sekedar ngucapin terima kasih gitu, lalu kemudian bergegas ke rumah temen gua untuk acara BBQan.

Takut kehabisan makanan. Anak D'Bijish kalo makan memang terkenal kalap.

Dan ketakutan gua pun ga salah. Sampe di sana gua liat dagingnya udah sekarat, tinggal dikit. Tapi masih mending daripada kehabisan sama sekali. Kemudian kita bercanda-bercanda dan main gitu layaknya anak muda. Ah ga pengen cepet-cepet tua rasanya. Di tahun 2016 ini gua akan menginjak umur 19 tahun, dimana hanya tersisa satu tahun lagi sebelum gua berkepala dua. Time flies dude.
Sampai akhirnya sekitar 23:45, which means 15 menit sebelum ganti tahun, kita semua pergi ke taman yang ada di komplek itu. Cukup gede tamannya. Cukup buat maenan kembang api 3 geng sekaligus.
Tanpa disadari, waktu menginjak 00:00 dengan sangat cepat. Tahun 2016 telah resmi datang. Yah begitulah, gua juga bingung gimana cara ngungkapin perasaan gua waktu itu dalam bentuk kata-kata. Yang pasti gua seneng banget. Gua saling salam-salaman sama temen-temen gua. Sekitar 20 orang lah. 
Gempor.
Dan kebetulan hampir semua dari kita adalah Antiokhers, akhirnya kita memutuskan untuk berdoa di tengah taman sambil membentuk lingkaran dan berpegangan tangan. Dan gua memimpin doa pertama di 2016. Sweet kan? MAKANNYA JOIN ANTIOKHIA!
Ini foto kita menyambut suasana tahun baru.
 Rame ya? Hayo guys, gua keliatan ga?
Memorable. Iya gua tau gua hampir ga keliatan.

Tahun baru bisa kita anggap sebagai awal yang baru untuk memulai dan menata hidup kita dari awal. Makanya orang pada bikin resolusi, meskipun banyak yang gagal dalam komitmen mereka sendiri. Di tahun yang baru ini, ada 366 kali kesempatan kita untuk melakukan sesuatu yang memorable. Menyenangkan dan ga terlupakan, dan tentunya gabisa dibayar dengan uang sekalipun. Gua harap kita-kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik aja di tahun ini. Ga muluk-muluk, gua juga ga bikin resolusi apa-apa kok. Gua akan coba buat lebih menjadi diri sendiri aja. See you guys!

Vigilio - How to Be Human Lyrics

  Am D G Em I used to be a boy who grunt every here and there Am D G Masked on for seven days a week Am D G E Tired to div...