Inverted POV

"Ah, hilang kemana lagi kawan kecilku yang satu itu?"
batinku kesal, sembari merogoh seisi kantongku.

Bukan yang pertama kali aku disibukkan oleh hilangnya kawan kecilku itu, ketika pasangannya telah menggantung bebas di bibirku.

"Nyari ini?" tanggap sahabatku setengah tertawa, sembari menyerahkan 'kawan kecilku' itu.

"Makasih la." balasku sambil meraihnya, dan kemudian menyalakan rokokku.

Nala. Nama yang tak asing bagiku. Sahabat yang kusayangi lebih dari apapun. Iya, rasa sayangku padanya murni kasih sayang seorang sahabat. Dan kuyakin, ia pun tak berbeda.

Aku angkat bicara.

"La, lu tau gue ngerokok udah 7 tahun lebih. Tapi sama sekali gapernah lu nasehatin gue untuk berhenti, or at least, untuk ngurangin lah. Lu mau gue mati cepet ya?"

Nala hanya menoleh kearahku, sambil mengukirkan senyum tipisnya. Ya Tuhan, mengapa aku tidak bisa menyayanginya lebih dari sekedar sahabat?

"La, gue serius."

Nala akhirnya kembali menoleh kedepan, kembali memperhatikan danau di depannya. Kemudian, masih dengan senyum tipisnya, ia angkat bicara.

"Setiap orang punya caranya sendiri untuk lepas dari rasa sakitnya." ucap Nala, tersenyum.

"Maksudnya?" jawabku bingung.

"Gue kenal lu udah lama. Gue tau rasa sakit lu. Gue juga tau kenapa dulu lu mulai ngerokok."

"Sebagai pelampiasan gue?" jawabku, masih bingung.

"Iya. Gue tau rasa sakit lu waktu itu. Dan gue paham betul rasanya. Sometimes people need things that make them feel better. Even if it destroys them." Nala menambahkan.

"Contohnya narkoba." tambahku, sedikit mengerti.

"Iya. Gue against dengan narkoba. Tapi gue ga memungkiri bahwa narkoba emang bikin nyaman bagi mereka pemakainya. Meskipun itu ngebunuh mereka."

Aku terdiam, tak menyangka perbincangan kita berjalan sejauh ini. Ditengah keheningan, Nala menarik kaos lengan panjangnya, dan memperlihatkan guratan guratan lurus di lengannya. Cukup banyak jumlahnya. Lusinan garis lurus yang sudah berubah warna menjadi coklat, tanda bahwa lukanya sudah mengering.

"Kita gabisa ngerti orang lain sepenuhnya, dan begitu juga sebaliknya. Yang kita punya ya cuma diri sendiri."

Nala memperhatikan lukanya sendiri.

"Kalo mainan lu korek, mainan gue adalah silet. Ironis ya. Gue nyakitin diri sendiri untuk bisa lepas dari rasa sakit yang lain."

Aku masih duduk mematung, tak berani menatap matanya. Meskipun yang kutahu, gadis kuat disebelahku ini, sudah menitikkan air matanya.

"Kita ini udah terlalu jauh. Udah gabisa diobati. Bahkan, untuk minta tolong sama Tuhan pun rasanya malu." ucap Nala, air matanya akhirnya jatuh secara liar.

Aku mendekatkan diri padanya, merangkulnya pelan.

Kurasa kawanku ini benar.

Kita memang manusia 'gila' yang tak dapat dimengerti siapapun.

Baik manusia.

Maupun Tuhan.

-vhp, how it feels like to be us.

#WrittenAugust
#WrittenAugustday25

Merry Christmas yang terakhir

Kakiku menapak di sebuah dataran luas berwarna putih. Hamparan salju yang terlihat di setiap sudut mataku seakan memanggilku untuk kembali menikmati perayaan natal seperti tahun- tahun sebelumnya.

Tapi sayangnya, tidak tahun ini.

Tepat dibawah pohon natal raksasa di tengah kota ini, pohon yang menjadi saksi bisu transisi kehidupan kami setelah ini, aku memandang matanya dalam-dalam.

Mata hijau yang menyayatku secara tiba-tiba, setelah selama 4 tahun selalu kubawa dalam setiap mimpi indahku.
"Bagaimana bisa?" Aku berusaha tetap terlihat tegar, sebagaimana aku seperti biasanya. Namun aku tahu aku akan gagal, kalimat pertanyaan tadi pasti terdengar sangat lirih di telinganya.
"Aku tidak tahu. Mungkin memang cuma sampai sini." Balasnya. Sambil tersenyum ringan. Ya, sambil tersenyum. Setiap kalimat yang ia utarakan seperti berusaha menarik air mataku keluar dari tempatnya.

Tidak. Aku laki-laki. Aku harus tetap kuat.

Sembari kutenangkan pikiranku, kuperhatikan setiap sudut wajahnya. Pipi bulat merah yang selalu kucubit selama 4 tahun ini. Poni samping yang tidak pernah berubah. Dan syal biru yang susah payah menutupi leher jenjangnya. Semuanya tak berubah setelah selama ini. Tapi, perasaannya?
"Aku memang salah ga pernah mengatakannya. Tapi, inilah yang terjadi, Darren."
Darren katanya? Bahkan dia tidak lagi memanggilku 'hun' sebelum kita resmi putus?
Aku geram. Aku mengangkat kepalaku, dan menemukan bahwa seorang laki-laki sedang berdiri tidak jauh di belakang Marsha. Dia memakai cincin yang sama dengan Marsha.
"Setelah 4 tahun, Sha. Kamu memang pemain drama yang hebat." Aku akhirnya bisa mengeluarkannya, setidaknya dua kalimat. Walaupun di dalam sini rasanya sesak.
Aku memang bodoh. Aku sadar dia telah kehilangan kebahagiaannya bersamaku sejak satu tahun terakhir. Dan aku? Aku tidak berusaha memperbaiki apa yang seharusnya kuperbaiki. Hingga saat ini, inilah yang terjadi. Tapi tidak apa. Cincin itu terlihat indah menari di jari manisnya.

Marsha masih terdiam. Dia tidak menjawabku. Tapi aku memang tidak ingin dijawab, karena aku sadar tiap kata yang keluar dari bibir indahnya itu, hanya akan kembali mengirisku.
"Dar, sorry aku..." "kamu hebat, Sha."
Belum sempat ia menjawab, aku kembali melanjutkan kata-kataku.
"Seharusnya aku sadar kalau kita memang tidak muda lagi. Seharusnya aku sadar kalau waktu kita tidak banyak. Seharusnya aku bisa lebih dari ini. Dan seharusnya....." kalimatku terhenti dan digantikan keheningan ya panjang.
Kuatur kembali nafasku. Ingin rasanya aku curahkan semua kepadanya. Namun, ia bukanlah siapa-siapaku lagi. Hingga akhirnya aku telah memiliki cukup kekuatan untuk melanjutkan kalimatku.
"Seharusnya aku menyadarinya. Menyadari bahwa separuh aku telah pergi, bahkan jauh sebelum hari ini." Selesai sudah. Aku belum menemukan rasa bersalah yang terukir diwajahnya. Yang kutemukan adalah rasa iba. Ingin aku berteriak "aku bukan pemulung yang butuh rasa ibamu!" Tepat di depannya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin.
"Aku gabisa maksain perasaanku lagi. Aku gak tau kemana hilangnya perasaanku." Itu dia. Skakmat. Tepat saat air mataku menetes, aku tahu bahwa permainan ini telah dimenangkan olehnya.
Di tengah keheningan ini, aku tersadar bahwa kalimat memohon apapun yang kuucap, tidak akan cukup untuk membawanya kembali. Yang bisa kulakukan saat ini untuknya adalah..... berharap yang terbaik untuknya di masa depan.
"Kamu semoga bahagia ya Sha ke depannya." Kataku sambil mengelus kertas tebal yang ada di tanganku. Kertas tebal yang membawaku dan Marsha kepada percakapan ini. Kertas tebal dengan tulisan 'Dylan & Marsha' di depannya.
"Bagaimana denganmu?" Marsha bertanya. Aku tidak bisa membedakannya lagi antara kepedulian atau hanya pertanyaan formalitas.
"Fokuslah kepada kebahagiaanmu. Bagaimana aku kedepannya bukanlah kewajibanmu lagi." Aku mengerti bahwa bersikap tegar adalah cara terbaik untuk keluar dari sini. Walaupun hanya berpura-pura.
"Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Selamat natal yang terakhir dariku, Marsha." Ucapku sambil berlalu. Dan ketika aku membelakanginya, barulah air mataku terjun dengan semangat.
Lucu terkadang. Bahkan ketika kita yakin bahwa manusia hidup selalu berpasang-pasangan, kehidupan akan selalu dengan senang hati menampar kita, dan mengingatkan kita sambil tertawa,
"You're on your own. You have nobody."

Me Time

It''s Sunday. And finally time to relieve the stress a bit.
Packed up schedule got me like:
taken from: www.attackofthecute.com

Setelah sekian lama, akhirnya gue merasakan hari libur yang sesungguhnya (weekend-weekend kemarin juga ada aja yang dikerjain) dan gue memutuskan untuk seharian di rumah.
Well, not really 'seharian' sih.
Gue sadar kalo gue udah lama ga melakukan kebiasaan gue pas SMA (dan awal-awal kuliah) dulu. Yaitu duduk di coffee shop sendirian, pesen satu minuman hangat, dan pacaran sama Abigaelle. 

Itu nama laptop gue.

Yes, gue merasa kalo yang gue butuhkan saat ini adalah me time. 
Sorry geng minumanya udah abis

Kembali ke kebiasaan lama tuh rasanya macem-macem. Lega dan senengnya dapet karena setelah sekian lama, gue bisa melakukan hal yang kayak gini lagi. Tapi kadang gue ngerasa bego juga, kenapa ga dari kemarin kemarin aja gue me timenya udah tau stress gini.
Yes, tulisan yang gue ketik secara spontanitas ini memang gaada maknanya, tapi yang gue ingin bilang sekali-kali coba deh kalian sediain waktu buat diri sendiri. Apalagi kalo kalian lagi penat-penatnya sama aktivitas yang biasa dilakuin. Dalam kasus gue, well, bermusik.

Gue juga heran kenapa bermusik yang adalah hobi nomor 1 gue, bisa bikin gue penat. Apa karena human nature yang bosenan? Gue gatau.
Tapi yang jelas, bahkan ketika hobi lu udah menjadi sesuatu yang lu kerjakan secara konsisten, bahkan udah jadi pekerjaan utama lu, lu butuh terobosan baru untuk tetep ngerasain yang namanya hidup secara dinamis. To keep yourself entertained lah istilahnya.
Dan cara gue untuk ini adalah me time. Daripada seharian ngasur di kamar, akhirnya gue sisain malam hari gue untuk nyobain salah satu Coffee Shop dimana temen gue kerja, pesen coklat panas, dan mulai asik depan laptop. Youtubing kah, atau Blogging, bahkan gue sempet main PES dulu sebelom mulai tulisan ini.
Apapun yang bisa bikin lu sedikit lebih rileks. Ya. Dikit aja bro jangan kebanyakan entar enak. 
hehe.
Okedeh, tulisan singkat ini gue akhiri dulu sampe sini. Don't forget to keep yourself entertained! See ya!!

Happiest Sad-Ending

1:17 am
I don't know where to start
It must be nice having someone you really care around you.
It feels like I've been slapped so hard knowing that we are separated in many ways.
This may sound stupid, but
When I feel like I've dug much deeper for myself
And so far I've run to keep myself clear
So you wouldn't know that these feelings are exist
When these words seem so unreachable
I tend to bury all of these deep within me
So you wouldn't know what I've been up to all these time
And I always keep myself as busy as ever
So that you can think that I was doing just fine
Meanwhile I'm not
And gracias for that, I've learned just another important thing that
Making your brain & heart sync at times like this, is nearly impossible.
I know I'm suck at writing such thing like this but anyway,
Thanks for staying in my memory,
my happiest sad-ending.

Vigilio - How to Be Human Lyrics

  Am D G Em I used to be a boy who grunt every here and there Am D G Masked on for seven days a week Am D G E Tired to div...