Different.

Ia membenamkan kepalanya di pundakku. Air matanya mulai keluar tanpa malu-malu lagi.

"Gak apa-apa. Cowok brengsek kayak dia gak pantes buat lo." Aku akhirnya angkat bicara.

Ia melanjutkan tangisannya. Aku memutuskan untuk diam selama beberapa saat.

"Ayu..," suaranya lirih.

"Ya?"

"Makasih ya selalu ada buat gue. Andai gue seorang lesbian, pasti gue udah cinta mati sama lo."

Aku tersenyum untuk menutupi perasaanku yang seperti tersayat oleh kalimatnya barusan.

Mungkin, 'andai' itu akan selamanya tetap menjadi 'andai'.

Ia tidak tahu.

Bahwa aku diam-diam mencintainya.

-vhp, the forbidden love.
#vigiliohouseproject

The Moon, Sun, and Stars

You're my moon. You still seem to shine even in my darkest day

You're my sun. My morning sunshine. How can I not love the warmness you give? Just like every morning sunshine do.

But oops, I forgot. As being the sun, you're also one of those stars. The way you shine so bright, or the way you stand out of the lonely night, drag me out of my dream.

That you're far away from me.

-vhp, loving you from distances.

#scrivenseptember
#Scrivenseptemberday05

Too bitter

"Kopimu hari ini terlalu pahit, kawan."

Satu kalimat yang menyentakku.
Apa yang salah? Aku melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar! Seperti biasanya!

Aku terpaku dalam diam. Mencoba mengingat apa yang mungkin salah kulakukan.

"Tak apa kawan. Aku tahu harimu buruk."

Bagaimana ia bisa tahu? Memang hari ini tidak berjalan baik untukku. Tapi, apa ia bisa tahu hanya dengan mencicipi kopi buatanku?

"Kau tahu kan, bahwa suatu karya seni adalah representasi aura penciptanya?"

Aku mengangguk pelan.

"Sama halnya dengan lukisan atau musik, kopi bagiku merupakan satu karya seni yang unik."

"Ya, hari yang buruk memang tepat direpresentasikan pada secangkir kopi pahit."

-vhp, a cup of coffee knows.
#scrivenseptember
#scrivenseptemberday1
#scrivenseptemberday01

Inverted POV

"Ah, hilang kemana lagi kawan kecilku yang satu itu?"
batinku kesal, sembari merogoh seisi kantongku.

Bukan yang pertama kali aku disibukkan oleh hilangnya kawan kecilku itu, ketika pasangannya telah menggantung bebas di bibirku.

"Nyari ini?" tanggap sahabatku setengah tertawa, sembari menyerahkan 'kawan kecilku' itu.

"Makasih la." balasku sambil meraihnya, dan kemudian menyalakan rokokku.

Nala. Nama yang tak asing bagiku. Sahabat yang kusayangi lebih dari apapun. Iya, rasa sayangku padanya murni kasih sayang seorang sahabat. Dan kuyakin, ia pun tak berbeda.

Aku angkat bicara.

"La, lu tau gue ngerokok udah 7 tahun lebih. Tapi sama sekali gapernah lu nasehatin gue untuk berhenti, or at least, untuk ngurangin lah. Lu mau gue mati cepet ya?"

Nala hanya menoleh kearahku, sambil mengukirkan senyum tipisnya. Ya Tuhan, mengapa aku tidak bisa menyayanginya lebih dari sekedar sahabat?

"La, gue serius."

Nala akhirnya kembali menoleh kedepan, kembali memperhatikan danau di depannya. Kemudian, masih dengan senyum tipisnya, ia angkat bicara.

"Setiap orang punya caranya sendiri untuk lepas dari rasa sakitnya." ucap Nala, tersenyum.

"Maksudnya?" jawabku bingung.

"Gue kenal lu udah lama. Gue tau rasa sakit lu. Gue juga tau kenapa dulu lu mulai ngerokok."

"Sebagai pelampiasan gue?" jawabku, masih bingung.

"Iya. Gue tau rasa sakit lu waktu itu. Dan gue paham betul rasanya. Sometimes people need things that make them feel better. Even if it destroys them." Nala menambahkan.

"Contohnya narkoba." tambahku, sedikit mengerti.

"Iya. Gue against dengan narkoba. Tapi gue ga memungkiri bahwa narkoba emang bikin nyaman bagi mereka pemakainya. Meskipun itu ngebunuh mereka."

Aku terdiam, tak menyangka perbincangan kita berjalan sejauh ini. Ditengah keheningan, Nala menarik kaos lengan panjangnya, dan memperlihatkan guratan guratan lurus di lengannya. Cukup banyak jumlahnya. Lusinan garis lurus yang sudah berubah warna menjadi coklat, tanda bahwa lukanya sudah mengering.

"Kita gabisa ngerti orang lain sepenuhnya, dan begitu juga sebaliknya. Yang kita punya ya cuma diri sendiri."

Nala memperhatikan lukanya sendiri.

"Kalo mainan lu korek, mainan gue adalah silet. Ironis ya. Gue nyakitin diri sendiri untuk bisa lepas dari rasa sakit yang lain."

Aku masih duduk mematung, tak berani menatap matanya. Meskipun yang kutahu, gadis kuat disebelahku ini, sudah menitikkan air matanya.

"Kita ini udah terlalu jauh. Udah gabisa diobati. Bahkan, untuk minta tolong sama Tuhan pun rasanya malu." ucap Nala, air matanya akhirnya jatuh secara liar.

Aku mendekatkan diri padanya, merangkulnya pelan.

Kurasa kawanku ini benar.

Kita memang manusia 'gila' yang tak dapat dimengerti siapapun.

Baik manusia.

Maupun Tuhan.

-vhp, how it feels like to be us.

#WrittenAugust
#WrittenAugustday25

Vigilio - How to Be Human Lyrics

  Am D G Em I used to be a boy who grunt every here and there Am D G Masked on for seven days a week Am D G E Tired to div...