Some Inspirational Musicians

Oke, gua mulai gerah karena ga dapet inspirasi. Iye gerah, pasalnya (macem UUD gitu) gua mau bikin soal misteri. konsepnya sih udah dapet, tapi kayak belom dapet cara bikin ceritanya gitu deh.

Asudahlah

Jadi fix tunda dulu ya. Mending sekarang gua ceritain hobi baru gue yang belakangan ini (sangat) sering gua lakuin.

Eh bentar bentar, sebenernya bukan hobi baru. gua kan sering nge-yutup (itu bahasa kerennya. bahasa alaynya: Youtube) dan check bebicheck cover-cover lagu gitu. Nah, inilah yang menginspirasi gua buat bikin "mini studio" dirumah gua sendiri lengkap dengan fasilitas recording biar bisa ningkatin kualitas pidio-pidio gua di Youtube.

Nih, mending lo lo pade cek beberapa artis yutup favorit guee:

1. Alex Goot 
yang satu ini sih emang kece berat, dia multitalent dalam hal mainin alat musik, dan suaranya juga bagus laahh! (y) Alex Goot - I Knew You Were Trouble




2. Chrissy Costanza (Vocalis Against The Current)
Suaranya SEKSI! Rocker rocker menghanyutkan gituu~
dan yang penting: CANTIK 




3. Pentatonix
Jadi ini tuh ceritanya grup Acapella, terdiri dari 5 orang gitu, 1 cewek dan 4 cowok ( CEWEKNYA NAMANYA KIRSTIE MALDONADO CAKEPNYA KELEWAT PARAH)


Semacam Grup Power Rangers yah (?)
Mitch Grassi (Tenor)
Scott Hoying (Baritone)
Kirstie 'Cakep kelewat parah' Maldonado (Alto-Sopran)
Avi Kaplan (Bass)
Kevin Olusola (Beatbox)

Selain mereka adalah grup Acapella yang jago 'bersuara'.... Jangan salah! (berarti bener) mereka juga pandai main alat musik loh (y) Mitch bisa Piano, Kevin jago Cello, Avi bisa Gitar.

4. Hollywood Ending Band
empat orang cowok yang ga kalah ganteng sama yang jelas bukan sama gue (?) dan salah satu gitarisnya (Dan Geraghty) adalah yang buat gue ngefans sama mereka. Keren pokok'e (y) 
Hollywood Ending
Cameron Byrd (Vocal-Keyboard)
Tyler Wilson (Vocal)
Dan Geraghty (Guitarist) ude jago, ganteng, mirip gue.... ahsudahlah
Chris Bourne (Guitarist) sayangnya dia jarang tampil di beberapa cover HEB


Yaudalah, segitu dulu yaa postingan gua kali ini, gua punya urusan lain kali MBLO di malem minggu ini, oiya, nih promosi dikit cover gua yang ga kalah keren sama yang diatas-atas~





Tulisan Kecil untuk 'Si Merah'



Tulisan ini bukan statistik, rumor transfer, headline news atau apapun itu, melainkan hanya tulisan sederhana dari seorang fans biasa.

Mungkin tulisan ini akan ‘sedikit’ menggambarkan kenapa gue cinta (banget) sama Liverpool.
Liverpool FC . Tim yang menurut kebanyakan orang 'sudah habis' dan tidak akan mungkin kembali ke masa jayanya. Fans? Iya, meskipun Liverpool termasuk tim yang memiliki fans terbanyak di dunia, tapi jelas performa Steven Gerrard dkk (hampir) tidak diperhitungkan sebagai tim kuat Eropa layaknya Real Madrid, Barcelona, Manchester United ataupun Bayern Munich. 

Saya yang sebagai salah satu dari banyak Liverpudlian terkadang juga bingung sendiri oleh pertanyaan- pertanyaan seperti "Kenapa Ga ngefans sama MU aja yang selalu konsisten tiap tahunnya?" , "Kenapa ga ngefans sama Barca yang punya deretan pemain akademi hebat" , "Kenapa ga ngefans sama Madrid aja yang bergelimpahan pemain bintang?". Well, saya sendiri juga gatau jawabannya.
Sejarah….. fans-fans Liverpool terkenal dengan gaya yang terlalu suka ‘memamerkan’ sejarahnya. Kita kembali sedikit ke belakang, tahun 2005.

Antara 'hoki' sama 'keajaiban' yang terjadi pada saat UCL 2005 emang nyaris gaada batasnya. Saat tulisan ini dibuat, Liverpool sudah 8 tahun melewati masa itu. Well, seperti yang gua tulis diatas, kita semua tahu kalau LFC ini disebut tim yang suka 'mengandalkan' sejarah oleh fans tim lain. 
Pertanyaannya, memang salah kalau kita punya sejarah? Menurut saya, emang ga ada salahnya kok membanggakan sejarah. Tapi, kalo terus-terusan jadiin sejarah sebagai ‘alasan’ untuk mengelak apa ga enek sendiri?
Memang salah kalau kita selalu membanggakan Steven Gerrard yang beberapa tahun lagi habis masanya?
Jujur, yang selalu menginspirasi saya untuk terus setia adalah kapten fantastik Steven Gerrard. 1 klub, 1 kota, 1 negara, 1 istri dan 1 pekerjaan (pemain sepakbola) the one and only Steven Gerrard. Kalau beliau saja bisa tetap setia, mengapa kita yang hanya fans biasa tidak? 

Gerrard sering mengalami kepahitan memang dalam karirnya. Coba bayangkan sudah berapa kali dia harus kehilangan sahabat satu timnya? Mulai dari Michael Owen, Xabi Alonso, John Arne Riise, sampai Fernando Torres. Belum lagi tentang rumor akan hengkangnya Luis Suarez, yang merupakan sahabat baru Gerrard.Dan juga karir Gerrard serasa belum sempurna. Tahun ini beliau menginjak umurnya yang ke-33 dan sama sekali belum mencicipi gelar EPL. Dia juga sempat ditawari banyak klub, hasilnya? Ditolak juga. Bayangkan seberapa setia dan loyal dia kepada klub?
Kembali pada pandangan orang-orang kepada LFC, jadi kita harus terus membanggakan Gerrard? Well, jujur untuk saat ini saya akan menjawab "iya" jika ditanya seperti itu. Gerrard merupakan pemain yang paling senior dan seharusnya paling bisa, seenggaknya untuk motivasi dan ngangkat ‘derajat’ Liverpool yang mungkin saat ini sudah mulai turun.
Saat ini, saat dimana Liverpool mengalami masa 'labil' nya, kita cuma bisa berharap suatu saat akan ada masa LFC akan kembali ke masa jayanya. Saya percaya kok kalau LFC bisa.
Sebagai fans, kita hanya bisa terus support mereka untuk melakukan yang terbaik supaya mereka dapat memberikan 'kado' berupa kemenangan manis kepada fansnya.
Sekali lagi, ini hanya tulisan sederhana dari fans biasa yang berharap Liverpool dapat kembali bangkit. Mohon maaf jika ada salah kata ataupun ada pihak yang tersinggung.

Bangun dan terbanglah kembali Liverpool FC. You'll Never Walk Alone!

Gerrard: Bukan Camp Nou, Wembley atau Old Trafford, Tetapi Anfield!

Hanya berkapasitas 45,522 orang dengan status bintang tiga Eropa tidak membuat Anfield kehilangan taji sebagai salah satu stadion legendaris yang masih bertahan. Dibangun oleh John Houlding, Anfield sebenarnya adalah kandang pertama rival sekota Liverpool, Everton sebelum mereka memutuskan pindah ke Goodison Park karena tak setuju dengan harga sewa.

Bersama Liverpool, Anfield telah banyak menjalani momen-momen manis baik domestik maupun internasional. Meski keangkeran stadion dengan empat tribun, the Anfield Road end, the Centenary Stand, the Kop, dan the Main Stand telah menghilang sejalan dengan surutnya prestasi Liverpool, Anfield tetap menjadi stadion dengan tingkat keriuhan tertinggi di Inggris.

Hal tersebut sangat diyakini oleh sang kapten, Steven Gerrard. Sudah bermain di atas rumput Anfield sejak 1998 lalu, pria 32 tersebut masih menempatkan Anfiled sebagai stadion dengan atmosfer terbaik di Eropa. "Aku pernah bermain di Camp Nou dengan hampir 100.000 warga Catalan yang riuh, bermain di hadapan 90.000 ribu penggemar di Wembley dan menghadapi ejekan 75.000 suporter di dalam Old Trafford." ungkap Gerrard dalam buku terbarunya My Liverpool Story.

"Anfield memiliki kapasitas setengah dari stadion-stadion tersebut tetapi kekuatan yang hadir disini tak dapat disentuh." jelasnya.

Gerrard pun beserta para pemain Liverpool lainnya masih berharap tuah Anfield mengiringi perjalanan panjang mereka menghadapi musim kompetisi ini. Dengan kata lain, Anfield beserta isinya masih menjadi kekuatan utama The Reds hingga saat ini.

Seperti yang dikutip : http://www.stevengerrardindonesia.blogspot.com/

Terima Kasih, Fernando Torres

Fernando Torres dan Steven Gerrard. Salah satu duet terbaik yang pernah dimiliki Liverpool di era sepakbola modern mungkin sudah menjadi kenangan. Keputusan Torres untuk membelot pada bursa transfer musim dingin 2011 lalu masih membekas jelas di ingatan sang kapten.

Namun belum banyak yang tahu apa yang Steven Gerrard benar-benar lakukan untuk mempertahankan El Nino kala ingin melepas kaus merahnya pada 2011 dan momen-momen apa saja yang keduanya lalui selama empat tahun bermain bersama. Berikut penuturan Steven Gerrard dalam buku terbarunya, My Liverpool Story


"Terdengar aneh memang untuk mengakui hal ini sekarang tetapi aku sempat ragu kalau Fernando Torres bisa sukses di Liverpool.

Dua hal yang terlintas di kepalaku saat dia datang pada musim panas 2007 seharga 20.5 juta poundsterling dari Atletico Madrid, aku berpikir dia akan frustrasi karena dia pasti tidak mampu mengatasi tensi dan permainan fisik ala Liga Inggris setelah datang dari Spanyol dan ini akan menjadi transfer mahal yang gagal lainnya bagi klub ini. Tetapi aku sangat berharap dia bisa menjadi pemain baru yang mampu membawa kita ke level selanjutnya dan dia pun membuktikannya.

Selama beberapa musim awalnya bersama Liverpool, dia menjadi senjata kami. Torres menjadi pemain terbaik yang aku pernah bekerjasama. Aku menyukainya. Setiap pertandingan, aku selalu yakin bisa melayani dia atau mencetak gol untuk diriku sendiri. Aku tahu itu akan terjadi karena Fernando bersamaku di lapangan. Terkadang, aku merasa kita hanya berdua di dalam tim ini.

Pada latihan pertama, aku melihat pergerakannya mirip Michael Owen. Aku berpikir kepada diriku sendiri kalau dulu bermain bersama Michael membuatku nyaman dan kemudian aku berpikir keraguanku saat pertama kali mengetahui Fernando ada di sini hanyalah pemikiran yang bodoh.

Torres seperti Michael, tetapi lebih bertenaga. Terkadang kalau Anda memberikan umpan yang sulit ke Michael, para pemain belakang akan mendapatkan bola itu kembali karena mereka bertubuh besar. Namun Torres membuat semua umpan yang buruk menjadi bagus. Dia adalah pemain yang kuat dan bertenaga. Dia adalah mimpi buruk untuk para pemain belakang tetapi juga sebuah mimpi indah untukku.

Aku biasanya selalu duduk di sampingnya saat berada di ruang ganti karena nomor kita di skuad adalah 8 dan 9 dan kita berbicara layaknya rekan satu tim. Aku tidak ingin berkata kita sangat dekat. Torres adalah sosok yang pendiam. Meski dia pendiam, adalah hal yang salah jika kita memanggilnya penyendiri. Dia nyaman dengan beberapa pemain Spanyol seperti Pepe, Xabi dan Alvaro Arbeloa dan pemain Amerika Selatan seperti Javier Mascherano. Tetapi kita saling menghormati satu sama lainnya dan kita saling mengerti kalau kita butuh satu dengan lainnya untuk bersinar. Aku tahu kalau dia berlari di lapangan, aku akan menemukan dia tetapi dia juga membantuku menjadi pemain yang lebih kuat.

Rafa Benitez membantuku untuk menjadi seorang striker lubang yang aku pikir aku belum kuasai. Aku pikir kunci sukses dari posisiku adalah Torres. Aku selalu harus bermain dengan seseorang yang dapat mencari celah di belakang pertahanan lawan. Aku pernah berperan seperti itu bersama Dirk Kuyt dan Peter Crouch tetapi itu berbeda. Aku adalah pemain yang harus berlari di belakang dan aku harus mencoba mengirimkan umpan taktis. Itu tidak sama. Torres bermain melebar, menciptakan malapetaka bagi lawan dan memberikan aku ruang untuk maju. Kita total mencetak 111 gol dalam 117 pertandingan. Subur.

Hanya satu kegagalan kita, kita belum memenangkan satu gelar pun bersama. Klub idolaku masa kecil adalah Liverpool. Sedangkan dia adalah Atletico Madrid. Dia pergi dari sana untuk mencari trofi dan meski kita berhasil mencapai semi-final Liga Champions, kita sedikit gagal.

Memang tak dapat dipungkiri hal tersebut yang membuatnya tidak senang di Liverpool. Tetapi kepergiannya di tahun 2011 masih menghantuiku. Setiap pemain ditakdirkan untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan dalam karir mereka. Aku tidak memiliki karir siapapun dan aku tidak dapat membuat keputusan untuk mereka. Anda pasti bertanya kemana klub ini akan bergerak jika para pemain terbaiknya pergi, tetapi aku tidak merasa dikecewakan Liverpool.

Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mencegahnya meninggalkan Liverpool. Torres ingin bertahan tetapi mereka mampu merealisasikan tawaran 50 juta poundsterling. Beberapa hari sebelum transfernya, Torres datang untuk menemuiku sebagai kaptennya. Dia berkata dia ingin pergi tetapi juga menambahkan kalau klub tidak merelakannya. Aku berkata "Dengar, kamu harus mengerti kalau kamu adalah pemain bintang dan mereka tidak merelakanmu pergi." Dia memintaku untuk berbicara dengan Kenny Dalglsih, manajer kita tentang hal tersebut. Itu yang membuatku tertekan karena aku tidak ingin membantu Fernando. Aku tidak ingin membantu Fernando. Aku tidak ingin mengatakan hal tersebut kepada manajer kalau pemain bintangnya ingin pergi karena aku ingin pembicaraan mengenai transfernya gagal.

Aku ingin Chelsea pergi dari pikirannya dan aku ingin rasa antusiasnya bermain untuk tim ini kembali. Kita baru saja merekrut Luis Suarez dari Ajax dengan 22 juta poundsterling. Uang ada. Kita coba meraih gelar juara.

Fernando akhirnya berbicara kepada Kenny sendiri tetapi dia memintaku juga untuk berbicara dengan Kenny. Aku berkata kepada Kenny kalau dia tidak senang bermain di sini. Ini adalah peran dari seorang kapten yang orang lain tidak lihat dan yang aku tidak ingin alami lagi. Anda tidak ingin pemain terbaik Anda pergi dan berkata "Aku sudah muak, aku ingin pergi ke klub lain dan aku ingin pergi ke salah satu rival Anda."

Ketika Fernando datang dan berkata dia ingin keluar, itu seperti sebuah pisau yang menusuk jantungku." - Steven Gerrard


Sumber : Sumber: Steven Gerrard: My Liverpool Story 
(Copas di http://stevengerrardindonesia.blogspot.com )

BANG GERRARD!! GUA JADI GALAU BACA CERITA LU BAAANGGG, SABAR BANG KITA PARA LIVERPUDLIAN PASTI MENDUKUNG KOK!

Vigilio - How to Be Human Lyrics

  Am D G Em I used to be a boy who grunt every here and there Am D G Masked on for seven days a week Am D G E Tired to div...