A little story about Forever Within Days


(August, 16th 2015)
Let me share a little story on this #throwbackthursday.
Yes, we were formed in 2014 (whoaaa its been 2 years)
And there was a little fun fact that I created this band based on jealousy over my friend (hella sure it was).
So it took long enough for me to be in a band again since the last time in 2012 when I and my middle-school mates formed an acoustic band. I surely remember that the first event we attended was BEEVOLUTION 2014 where we didn’t reach anything. At all. As a founder, I was all alone. There was a moment of me being clueless, and helpless, because I didn’t know who to ask until that one time I saw @vitogun ‘s instagram video of him playing his guitar. And I was like “oh I need someone better than me obviously” and that’s where I decided to take Vito in, with only “ah gapapalah paling cuma jadi band musiman, abis beevol bubar” state of mind. And today we’re here, ready to make our movie clip of our newest cover.
And this photo? Well, this is the highlight of our biggest performance so far (in my opinion), where we performed in front of 2000 people, it was an amazing feeling (that was the first time I take the lead-vocalist role). Oh and the name? It’s a simple story. I was inspired by Ansel Egort’s quote. (The fault in our stars). End of story.
And what I just realized is that I’ve learned a lot. Literally a lot. Gimana pusingnya nyari anggota yang konsisten dan cocok sampe harus gonta-ganti mulu. Atau ngerasain senengnya pertama kali rekaman, atau pegel bolak-balik minjem bass, bayar studio yang mahal, sampe marah-marah sendiri gara-gara latian ngaret, cuma demi sekotak nasi sehabis perform. Atau bahkan ngatasin minder karena takut kebanting sama band lain yang lagi perform. Well, if everyone has their own masterpiece, this is mine. Forever Within Days!


Btw, we’re new on instagram. Go give us a follow! J @fwd_band

Tulisan si sombong

Huh!
Kita ini hidup di dunia dimana kita dianggap tidak berharga bukan? sudah seharusnya kalian tau rahasia umum ini. Maka tidak terkecuali aku ini, yang tempo dulu kerap kali menelan mentah-mentah cercaan kalian, sendirian tentunya. Tanpa seorang teman.

Kalian harus coba merasakan hidup dengan sudut pandangku, sudut pandang si rendahan ini. Si rendahan yang.... ah, si rendahan yang hanya memiliki satu permintaan.

Diakui.

Hanya itu. Sebuah permintaan amat sederhana yang sangat sulit dikabulkan oleh kaum borjuis seperti kalian. Perkenankan aku, si sombong ini, membuka tulisanku dengan sedikit pertanyaan kecil.

Aku berani jamin bahwa kalian pernah dongkol melihat seorang handal yang sombong, bukan? Ketika ada prestasi yang selalu ia bawa dalam setiap kalimatnya ketika berhadapan dengan kalian si 'borjuis' ini. Omong-omong, mengertilah bahwa borjuis ini adalah panggilan sarkasme untuk kalian.

Coba kembali diingat-ingat. Dongkol? Iya kan?
Lalu dengan sudut pandangmu, kamu menghina si sombong ini dengan kalimat tajammu, yang mungkin dulu pernah mengusik hati si sombong ini. Dulu, sekarang tidak lagi.
Kamu pernah menanyakan pada dirimu sendiri? Kenapa ia bisa amat bangga dengan prestasinya? Mengapa ia berani menyombongkan miliknya sampai segitu niatnya sih?

Tidak pernah.

Dan tentunya kamu tidak mengerti akan jawaban dari pertanyaan itu bukan? Jawaban sepele yang penuh makna.
Karena ia mengerti seberapa sakitnya ketika ia dulu diremehkan.

Aku mengerti bahwa dunia ini memang keras. Apapun yang kita lakukan tidak akan pernah sempurna di mata orang. Apalagi di mata kritikus-kritikus pedas yang banyak wacana. Masih cupu dihujat, sudah sukses apalagi. Lalu yang benar itu seperti apa hai para hakim?

Memangnya aku salah dengan sedikit menunjukan aku telah berhasil?
Memangnya aku salah dengan memberi statement bahwa aku bukan si cupu yang dulu kau remehkan?
Memangnya aku salah dengan menuntut sedikit pengakuan?

Aku tahu aku ini bodoh. Aku terlalu peduli dengan apa yang orang katakan tentangku, hingga aku lupa menikmati hasil jerih payahku sendiri.
Aku terlalu sibuk mengungkit rasa sakit yang dulu mereka tanamkan pelan-pelan. Aku adalah seorang pendendam yang sukses. Seseorang yang berjuang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan hanya demi pengakuan orang lain.
Hingga saat kini, ketika aku duduk di sofaku yang empuk, aku masih saja terus mengingat apa saja yang mereka lakukan. Ingatan yang sebenarnya ingin kubuang jauh-jauh. Ingatan yang sering datang tiba-tiba hanya untuk membuat dadaku perih.
Because for me, what people say matters.
Hingga kini, aku yang duduk ditengah segala sesuatu yang kumiliki, masih merasa sepi.
Apa yang salah denganku?


Sincerely, si sombong.



Tulisan si Pengecut Untuk Bunga Hatinya

             Masa putih abu-abu. Aku telah banyak mendengar cerita dimana masa-masa SMA ialah masa
yang paling menyenangkan dalam hidup. Masa SMA ialah masa dimana kita mulai mencicipi berbagai macam rasa kehidupan. Ada saat kita jatuh terpuruk, dan kemudian kita belajar untuk bangkit, namun ada kalanya juga kita belajar bersyukur atas apa yang telah kita capai. Bisa saja itu berupa prestasi juara umum, atau menemukan pacar yang ingin kau bawa sampai ke pelaminan, mungkin? Semua orang memiliki cerita soal kehidupan SMA. Tak terkecuali aku, yang memiliki cerita yang akan terus terpatri dalam ingatanku, tentang bagaimana manusia bodoh ini menjadi pengecut selama tiga tahun terakhirnya di bangku sekolah.
Terkadang aku merasa bahwa aku salah dilahirkan di dunia ini sebagai laki-laki. Diibaratkan tumbuhan pun, aku ini hanya putri malu yang tidak berduri. Sudah pemalu, tak punya kelebihan pula. Itulah yang aku rasakan sampai saat ini. Setidaknya, aku berusaha tahu diri, meskipun lebih cenderung rendah diri pada akhirnya.
Aku memang merasakannya. Perasaan ‘aneh’ yang kurasakan saat memandanginya dari kejauhan, memang tak asing lagi di dadaku. Tapi, aku belum sepenuhnya mengerti. Cinta? Atau hanya sebatas kagum? Aku belum bisa menyimpulkannya. Tapi satu yang kutahu saat aku memandanginya, dari kejauhan tentunya. Bahwa dialah bunga hatiku.

Aku pun tidak yakin bahwa dia mengenaliku. Bahkan, bagi dia untuk mengetahui bahwa aku ada saja, aku tidak yakin.  Sosok yang selama ini ada di benakku mungkin terlalu sibuk untuk mengenaliku. Entah sibuk dalam kepengurusan OSIS, atau dalam ekskul fotografi? Oh, mungkin juga sibuk belajar untuk mempertahankan statusnya sebagai juara umum. Dia memang sosok idaman yang penuh bakat. Dan berbicara soal bakat, disinilah aku. Berdiri dibawah bayang-bayang cowok-cowok lain yang memiliki sesuatu untuk dibanggakan di depannya. Selama tiga tahunku mencintainya diam-diam, aku telah banyak melihatnya bersama cowok-cowok itu. Aku pernah melihatnya bergandengan tangan dengan cowok di ekskul fotografi yang sama sepertinya, atau mendengar kalau dia baru saja menerima kapten basket sekolahku sebagai pacarnya. Sedangkan kelebihanku? Ah, Cuma satu kelebihanku. Menyembunyikan perasaanku hingga tak ada seorang pun yang tahu.

Aku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta melihat senyumannya saat menerima piala juara umum, meskipun senyumnya tidak ia tujukan padaku. Aku jatuh cinta mendengar suaranya saat kampanye pemilihan ketua OSIS yang baru, meskipun suaranya tidak pernah ia pergunakan untuk berbincang denganku. Dia yang kukenal, adalah dia yang tidak pernah terlihat murung dan selalu membagikan energi positif pada semua orang. Tidak heran jika semua orang menyukainya.
Dan setelah melewati proses belajar selama tiga tahun, akhirnya malam itu tiba. Malam pelepasan. Malam dimana aku akan memberanikan diri untuk bicara padanya. Aku tidak peduli apakah itu hanya sekedar “hai” atau obrolan ringan. Aku tidak peduli bahwa saat nanti akan menjadi kali pertama sekaligus yang terakhir bagiku untuk bicara padanya. Hanya satu yang terpikirkan olehku saat itu. Aku harus berhenti menjadi pengecut.
Ah, aku membenci perasaan ini. Perasaan minderku yang kembali muncul setelah melihatnya. Wanita dengan dress merah melekat di tubuhnya, serta balutan make up yang membuatnya terlihat makin sempurna itu memang tak pernah bosan memikat mata dan hatiku. Selama acara pelepasan berlangsung, mataku hampir tidak pernah berhenti memandanginya, dari kejauhan tentunya, sambil berharap ada tatapan balik yang ia tujukan padaku.
Aku terus menunggu saat yang tepat untuk menghampirinya, di tengah murid-murid yang sedang merayakan kelulusan mereka. Hingga aku menemukan saat itu. Saat acara berakhir dan aula terlihat mulai sepi, aku melihatnya duduk sendiri, terlihat seperti sedang menunggu sesuatu. Inilah saat itu, pikirku. Di tengah segala keraguan yang ada dalam benakku, aku berusaha melawan langkah kakiku yang terasa amat berat saat kuangkat ke depan. Di saat itu, keraguan kembali menguasaiku. “Apakah dia akan mengenaliku?”, “Apakah dia tidak akan terganggu jika aku menghampirinya?” Pergulatan batin yang hebat menahanku berdiri mematung di tempat itu untuk beberapa lama. Pergulatan batin yang menuntunku pada penyesalan. Ya, penyesalan.

Aku memang dapat mengalahkan keraguanku dan kembali melangkahkan kakiku. Namun, sebelum langkah kaki ketigaku menapakkan telapaknya di lantai aula, aku melihatnya kembali dari kejauhan. Melihat tangannya diraih oleh seorang laki-laki dan menuntunnya keluar dari aula. Aku tertegun dalam keheningan. Air mata yang enggan turun dari mata si pengecut yang bodoh ini, seolah malah menertawaiku. Hingga akhirnya aku pun sadar tentang siapa diriku. Senyum tipis namun miris terukir di bibirku. Sembari melihatnya hilang perlahan dari balik pintu aula, aku kembali berpikir. Dia memang pantas mendapatkan yang jauh lebih baik, dibandingkan seorang pengecut yang hanya menumpahkan isi hatinya dalam tulisan, tulisan yang mungkin tidak akan dibaca oleh bunga hatinya.

Fokus yang tak bisa fokus

      Gue sadar kalo selama 2 bulan terakhir, gapernah gue sentuh blog gue ini. Jadi hal pertama yang ingin gue sampein di blog ini, adalah permintaan maaf buat kalian para readers gue (kalo ada) karena udah lama tulisan blog ini stuck di angka 25 Februari 2016. Dan sekarang, gue akan coba nulis tentang apa sih kesibukan gue yang bikin blog gue terbengkalai belakangan ini.

Kalo boleh jujur, saat gue lagi nulis tulisan ini, gue lagi drop banget. Ga secara fisik, tapi secara psikis. Gue merasa kayak lagi diserang si 'masalah' yang make jurus kagebunshin no jutsu. Jadi banyak. Gue ngerasa diserang dari segala arah, segala aspek. Rada lebay ga sih? hahah
This picture reflects me perfectly

Anyway guys! Gue gamau berlama-lama cengeng di tulisan gue kali ini. So, let the cheerful side take over!
Jadi, balik lagi ke topik utama gue di tulisan ini, kesibukan apa aja sih yang lagi gue tekunin sampe gue ga sempet sentuh blog ini?

1. From Blogging to Vlogging
Yap! Gue memutuskan untuk kembali aktif di Youtube, setelah dulu gue sempet aktif di Youtube buat upload-upload cover bobrok. Gue yang berusaha ngikutin trend, akhirnya berani buat nyoba Vlogging dengan kamera yang seadanya. Sampai saat tulisan ini gue buat, gue udah upload sampai 9 episode vlog di youtube gue.
Tuh liat aja sendiri.

Jadi, sebenernya kalian gaperlu khawatir kalo gue meninggalkan blog ini, karena gue juga membagikan cerita gue dalam bentuk video, di youtube. Silahkan ditonton!
Tapi, bukan berarti gue ninggalin blog gue. Gue bakal tetep update kok, meskipun inkonsisten. Hehehe.

2. Recording Project
Meskipun project yang dibuat sama Vito (gitaris FWD) ga terlalu nyibukkin gue, tapi tetep aja gue butuh fokus ke sini juga. Ini bakal jadi kali pertama gue nyentuh studio rekaman dan nyanyi di depan condensor microphone! Footagenya juga ada di vlog gue loh yang judulnya "Doing ALL My Hobbies in one day"
Dan rencanya, project ini akan direalisasikan pada awal Juni, seselesainya FWD ngisi acara di kampus gue pada akhir Mei.
Wish Me Luck!

3. Kembali kepada Novel
Yak. Hobi yang udah rada lama gue tinggalin, baca novel. Gue dulu rajin banget baca novel, puncaknya pas SMP. Gatau kenapa sejak SMA gue mulai meninggalkan kebiasaan baca novel gue. Entah karena gue sibuk atau apa, gue juga gatau. Namun belakangan ini gue mulai balik baca novel lagi. Bahkan, pas kemarin ada event Big Bad Wolf di BSD, gue borong 7 novel guys! Lumayan buat stock gabut.
Dan gacuma baca, gue berpikir untuk menulis novel gue sendiri. Menurut kalian gimana?
PS: gue sempet nulis novel beberapa tahun lalu. Tapi begitu udah setengah jalan, filenya ilang gara-gara komputer gue dipretelin. Jadi rada males buat start over.

Jujur, gue bukan ga kewalahan dengan apa yang lagi gue kerjakan, tapi gue antusias juga. Jadi, meskipun kadang gue stress sendiri gara-gara kewalahan, meskipun gue mulai jarang mikirin kuliah gue, gue yakin ini bisa jadi batu loncatan buat gue jadi lebih baik kedepannya. Yang penting gue harus tetep fokus.

That's it! Sekian dulu tulisan gue kali ini yang mungkin menurut kalian hanya, hmm, nambahin feed yang udah lama ga diupdate? hahahah
See you guys on the next post!

Vigilio - How to Be Human Lyrics

  Am D G Em I used to be a boy who grunt every here and there Am D G Masked on for seven days a week Am D G E Tired to div...